SUARA GEMILANG NUSANTARA
Sarolangun – Kondisi jalan utama di Desa Taman Bandung, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, kian memprihatinkan. Kerusakan parah yang telah berlangsung lebih dari 25 tahun itu hingga kini belum mendapat penanganan serius dari Pemerintah Kabupaten Sarolangun.
Jalan tersebut merupakan satu-satunya akses vital bagi warga, khususnya petani, untuk mengangkut hasil pertanian ke luar desa. Namun akibat kondisi jalan yang rusak berat dan sulit dilalui, hasil produksi pertanian warga tidak dapat dipasarkan dengan baik. Dampaknya, perekonomian masyarakat lumpuh dan angka kemiskinan semakin meningkat.
“Kami ini petani kecil. Jalan ini satu-satunya urat nadi kami untuk mengeluarkan hasil kebun. Tapi sudah puluhan tahun rusak dan dibiarkan. Sekarang kami seperti terkurung di desa sendiri,” ujar Hasan Jasa, warga Desa Taman Bandung.
Akibat keterisolasian tersebut, harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Sembako menjadi mahal bahkan kerap tidak tersedia. Ironisnya, harga tabung gas LPG subsidi 3 kilogram di desa tersebut tembus hingga Rp60 ribu per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kondisi ini semakin diperparah saat musim hujan tiba. Jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang nyaris tidak bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Situasi ini tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berdampak serius pada akses kesehatan.
“Kalau ada warga yang sakit, kami tidak punya harapan untuk bisa cepat keluar desa berobat. Ini sudah seperti bencana musiman bagi kami,” tambah Hasan dengan nada getir.
Masyarakat setempat menilai Pemerintah Kabupaten Sarolangun terkesan tutup mata terhadap penderitaan yang mereka alami. Selama lebih dari dua dekade, belum ada solusi nyata maupun pembangunan permanen untuk memperbaiki akses jalan tersebut.
Masyarakat Desa Taman Bandung berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan, meninjau langsung kondisi di lapangan, serta memberikan perhatian serius. Mereka menuntut hak dasar sebagai warga negara: akses jalan yang layak, keterjangkauan pangan, dan jaminan keselamatan serta kesehatan.
“Jangan tunggu kami benar-benar kelaparan dan jatuh korban baru pemerintah datang,” tegas warga.
(4091)








